Kumpulan Artikel Sejarah dan Tempat Wisata di Indonesia dan Dunia

Isi Perjanjian Linggarjati

Perjanjian Linggarjati adalah salah satu perjanjian bersejarah antara Republik Indonesia dan Belanda, yang berlangsung di Jawa Barat, tepatnya di Desa Linggarjati, Kecamatan Cillimus, Kabubapten Kuningan, dekat dengan Gunung Ceremai. Kesepakatan yang dibuat oleh kedua pihak ditandatangani pada tanggal 15 November 1946 di Jakarta, selanjutnya secara sah 25 Maret 1947. Selain Perjanjian Linggarjati, ada beberapa perundingan lain yang dilangsungkan antara pemerintah Indonesia dengan Belanda setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, seperti perjanjian Roem Royen tanggal 14 April sampai 7 Mei 1949, Renville tanggal 17 Januari 1948, kemudian KMB (Konferensi Meja Bundar) di Den Hag.

Perjanjian Linggarjati terpaksa harus dilakukan oleh pihak Indonesia demi penyelesaian berbagai permasalahan yang muncul akibat kedatangan pasukan AFNEI (Allign Forces Nederlands East Indies) ke Indonesia melalui NICA (Nederland Indie Civil Administratie). Diadakannya perjanjian Linggarjati bertujuan agar supaya Belanda mau mengakui kemerdekaan Indonesia. Awalnya, baik RI maupun Belanda tidak segan mengadakan perundingan, tetapi setelah adanya mediasi dari pemerintah Inggris (Britania Raya) yang saat itu adalah penanggung jawab atas konflik di wilayah Asia, akhirnya 2 negara mau untuk duduk bersama dalam meja perjanjian.

Isi Perjanjian Linggarjati

Isi Perjanjian Linggarjati Beserta Latarbelakang dan Dampaknya
Sebelum berlangsungnya Perjanjian Linggarjati, pernah dilakukan pertemuan antara kedua negara dalam usaha penyelesaian masalah atas usulan dari Sir A.C. Kerr (utusan Inggris). Pada kesempatan ini Indonesia mengusulkan wilayah yang harus diakui Belanda, seperti Madura, Sumatera dan Jawa, tetapi hanya Pulau Jawa dan Madura saja yang diakui.

Tidak menyerah begitu saja, pihak Inggris mengirim utusan lain bernama Lord Killern pada akhir bulan Agustus 1946. Ia pun berhasil membujuk kedua negara supaya melakukan pertemuan kembali. Perundingan berlangsung di Konsulat Jendral Inggris di Jakarta. Hasilnya membuat kedua negara sepakat melakukan gencatan senjata pada tanggal 14 Oktober 1946. Perjanjian dilanjutkan kembali pada tanggal 11 November 1946 di Linggarjati. Perundiangan kesepakatan inilah yang sekarang kita kenal dengan nama Perjanjian Linggarjati. Apa saja isinya?

6 Poin Isi Perjanjian Linggarjati

Terdapat 6 poin penting hasil kesepakatan antara kedua belah pihak, berikut ini Isi Perjanjian Linggarjati, antara lain :
  1. Belanda mengakui Republik Indonesia secara nyata (de facto) atas Sumatera, Jawa dan Madura.
  2. Dibentuk Uni dari kedua negara, dipimpin atau diketuai Ratu Belanda.
  3. Pemerintah Belanda dan Republik Indonesia sepakat mengurangi jumlah pasukan tentara.
  4. Pembentukan negara federal yakni bernama RIS atau Republik Indonesia Serikat.
  5. Sebelum tanggal 1 Januari 1949 sudah harus dibentuk RIS dan juga Uni Indonesia Belanda.
  6. Pemerintah Republik Indonesia akan mengakui dan memulihkan serta melindungi hak asing.

Analisis Isi Perjanjian Linggarjati 

Dari enam isi diatas, kita dapat menganalisis bahwa hasilnya sangat merugikan pemerintah Indonesia. Pertama pada poin 1, hanya sebagian pulau saja wilayah Indonesia yang diakui oleh Belanda, yakni Sumatera, Jawa dan Madura, padahal luas wilayah Indonesia membentang dari Sabang sampai Merauke.

Kerugian akibat kesepakatan isi perjanjian Linggarjati kedua adalah masih terjadinya pertempuran di beberapa daerah, padahal sudah ada kesepakatan gencatan senjata. Akibatnya banyak korban berjatuhan akibat permasalahan ini, terutama dari militer maupun penduduk sipil. Sementara itu, ada nilai positif yakni Belanda mengakui Republik Indonesia secara De Facto. 

Latar Belakang Perjanjian Linggarjati

Sebuah kesepakatan internasional tentu ada sebabnya, apalagi antara negara penjajah dan negara yang dijajah. Latar belakang perjanjian Linggarjati disebabkan karena masuknya militer Belanda bernama AFNEI (Allign Forces Nederlands East Indies) ke wilayah Indonesia yang notabene sudah merdeka. Pasukan khusus tentara Belanda masuk ke wilayah RI dengan membonceng NICA (Nederland Indie Civil Administratie). NICA adalah pemerintahan sipil Hindia Belanda. Kedatangan pasukan tersebut menimbulkan ketegangan antara Belanda dan Republik Indonesia, salah satu contoh peristiwa peristiwa besar yang terjadi yakni Pertempuran 10 November di Surabaya.

Pro dan Kontra Perjanjian Linggarjati

Pro dan kontra merebak di kalangan masyarakat, sebagai contoh beberapa organisasi partai di Indonesia seperti Partai Nasional Indonesia, Masyumi, PRI dan PRJ (partai rakyat jelata) menilai bahwa perjanjian tersebut menunjukan bahwa pemerintah Republik Indonesia begitu lemah dalam mempertahankan kemerdekaan.

Untuk mengatasi isu-isu tersebut, pemerintah mengeluarkan Perpres Nomor 6 tahun 1946, peraturan presiden tersebut dibuat untuk mendukung berlangsungnya perjanjian Linggarjati. Kemudian pada tanggal 25 Februari 1947 pihak KNIP secara resmi mengesahkan dan menandatangani hasil perjanjian yang dilangsungkan tersebut.

Pelanggaran dan Penyelewengan Perjanjian Linggarjati

Pelaksanaan Perjanjian Linggarjati tak berjalan lancar, karena selang beberapa bulan Belanda mengingkari janjinya. Pemerintah Belanda melalui Gubernur Jenderal Van Mook pada tanggal 20 Juli 1947 menyatakan tidak terkait lagi dengan hasil perjanjian. Hal ini dibuktikan dengan serangan terhadap Indonesia pada tanggal 21 Juli 1947. Serangan tersebut terkenal dengan nama Agresi Militer Belanda 1. Serangan terjadi karena adanya perbedaan penafsiran dari pihak Belanda dan Republik Indonesia.
Baca Juga : Sejarah Agresi Militer Belanda 1 Lengkap

Dampak Perjanjian Linggarjati

Dari isi kesepakatan persetujuan yang sudah dijelaskan diatas, kita dapat menganalisis bahwa hasilnya sangat merugikan bagi Indonesia. Ada juga sisi positif lain dari perjanjian ini, namun sedikit. Dampak negatifnya "luas wilayah Indonesia yang diakui dalam kesepakatan tiga pulau antara lain Jawa, Sumatera dan Madura. Padahal pada masa penjajahan Belanda, luas Indonesia dari Sabang sampai Merauke.\

Dampak Negatif Perjanjian Linggarjati

Masih terjadi pertempuran di berbagai daerah, padahal sudah ada kesepakatan gencatan senjata. Pertempuran sangat merugikan militer Indonesia karena dalam keadaan belum siap. Sementara itu, kerugian korban dalam perang baik militer maupun orang-orang sipil masyarakat yang berjatuhan begitu banyak.

Dampak Positif Perjanjian Linggarjati

Diakuinya Republik Indonesia secara De Facto oleh pemerintah Belanda yang merupakan negara penjajah Indonesia selama berpuluh-puluh tahun, walaupun yang diakui hanya sebatas pulau-pulau.

Tokoh Penting yang Terlibat saat Perjanjian Linggarjati

1. Delegasi Indonesia dalam Perjanjian Linggarjati

Dipimpin oleh Sutan Syahrir, ia merupakan seorang intelektual pada masa revolusioner kemerdekaan Indonesia. Lahir pada tanggal 5 Maret 1909 di Padang Panjang Sumatera Barat, jabatan penting pernah ia pegang seperti menjadi Perdana Menteri Pertama Indonesia dari 14 November 1945 sampai 20 Juni 1947. Meninggal sebagai tawanan politik di pengasingan di Swiss pada 6 April 1966. Ia juga pendiri partai besar PSI Partai Sosialis Indonesia.

Anggota lain : Mr. Susanto Tirtoprojo (pernah menjabat sebagai Menteri Kehakiman pada 6 kabinet), Dr Adnan Kapau Gani (politisi sekaligus Dokter, pernah menjadi Wakil PM saat Kabinet Amir Syarifudin I, II), Mohammad Roem (seorang diplomat, pernah menjadi Mendragi, Menlu dan Wakil PM).

2. Delegasi Belanda

Dipimpin oleh : Wim Schermerhorn, ia adalah politikus sekaligus Perdana Menteri Belanda pada tahun 1945-1946, lahir pada tanggal 17 Desember 1894 di Akersloot, Castricum, Belanda. Pendiri International Traning Center fotogrametri di Delft (lembaga penelitian). Anggota lain : De Boer dan Van Pool.

3. Mediator (Penengah)

Lord Killearn (Inggris) atau Miles Wedderburn Lampson Kullern, lahir di Killern, Skotlandia pada tanggal 24 Agustus 1880. Ia merupakan menteri luar negeri Inggris tahun 1903.

Gedung Perjanjian Linggarjati

Gedung Perjanjian Linggarjat

Sebelum beralih fungsi menjadi museum, dulu pada saat masa penjajahan Belanda tepatnya tahun 1918 adalah adalah rumah tua (seperti gubuk) kediaman ibu Jasitem yang dijadikan sebagai tempat berlangsungnya perjanjian Linggarjati (saksi bisu). Lokasinya berada di sebelah timur Kota Kuningan, pernah juga menjadi markas tentara, hotel dan sekolah dasar.

Jika datang kesini, kalian akan melihat koleksi-koleksi seperti diorama, meja perundingan, foto dokumentasi asli, benda peninggalan lain dan naskah Perjanjian Linggarjati. Selain itu, terdapat sebuah monumen dan halaman luas dibelakang bangunan dengan pohon-pohon besar dan rindang. 

Nah, itulah ulasan lengkap sejarah Isi Perjanjian Linggarjati : Latar Belakang dan Dampaknya, beserta beberapa sub tema meliputi tokoh yang terlibat, tujuan, pelanggaran dan pro kontra.
Baca juga artikel lain tentang perjanjian bersejarah di Indonesia:
  1. Sejarah dan Isi Perjanjian Giyanti
  2. Sejarah dan Isi Perjanjian Bonaya
  3. Sejarah dan Isi Perjanjian Renville
  4. Sejarah dan Isi Perjanjian Saragosa
Sumber Referensi :
  • Buku karya Machdi Suhadi, A. Kardiyat Wiharyanto dan Sutarjo Adisusilo berjudul "Ilmu Pengetahuan Sosial Sejarah untuk SMP dan MTs kelas IX. Tahun 2006, penerbit Erlangga.

Share ke teman kamu:
Tags :

Related : Isi Perjanjian Linggarjati